Kamis, 03 Desember 2009

KAJIAN NOVEL BUMI MANUSIA

Dalam Kajian Novel Bumi Manusia ini akan menganalisis struktur novel hanya berdasarkan unsur intrinsik saja.
Analisis Unsur Intrinsik
Tema
Tema novel ini adalah tentang kisah percintaan seorang pemuda keturunan priyayi Jawa dengan seorang gadis keturunan Belanda dan perjuangannya di tengah pergerakan Indonesia di awal abad ke-20.

Tokoh dan Penokohan
Minke, tokoh utama, karena mempunyai peran yang paling penting dalam cerita, mendominasi seluruh besar cerita. Tokoh protagonis, diberi empati oleh pembaca. Penggambaran fisik : Seorang Pribumi tulen.
Narasi : Minke adalah seorang manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Dialog : “Aku lebih mempercayai ilmu-pengetahuan, akal.”
Penggambaran pikiran dan perasaan : Aku ini siswa H.B.S., haruskah merangkak di hadapannya dan mengangkat sembah? Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil.
Annelies Mellema, tokoh utama karena mempunyai peran yang penting dalam cerita, mendominasi sebagian besar cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi. Dan mata itu, mata berkilauan itu seperti sepasang kejora; dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman.
Dialog : “Aku adalah seorang Pribumi, seperti mama.”
Penggambaran pikiran tokoh lain : Seperti ratu, Minke. Begitu lembut wajahnya. Primadona dari Italia dan Spanyol, ballerina dari Prancis dan Rusia pun takkan secantik dia.
Nyai Ontosoroh, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Pemunculannya begitu mengesani karena dandanannya yang rapi, wajahnya yang jernih, senyumnya yang keibuan, dan riasnya yang terlalu sederhana. Ia kelihatan manis dan muda, berkulit langsat.
Narasi : Sejak detik itu hilang sama sekali penghargaan dan hormatku pada ayahku; pada siapa saja yang dalam hidupnya pernah menjual anaknya sendiri. Untuk tujuan dan maksud apapun.
Dialog : “Hanya pengabdi uang. Bertambah banyak uang kau berikan padanya, bertambah jujur dia padamu. Itulah Eropa!”
Penggambaran pikiran dan perasaan : Tidak seperti ayahku, Ann, aku takkan menentukan bagaimana harusnya macam menantuku kelak. Kau yang menentukan, aku yang menimbang-nimbang.
Robert Mellema, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh antagonis, tidak diberi empati oleh pembaca. Ditafsirkan sebagai penentang tokoh utama dan menyebaban konflik.
Penggambaran fisik : Ia berwajah Eropa, berkulit Pribumi, jangkung, tegap, kukuh.
Narasi : Seorang pemuda Indo yang sangat mengagungkan Hindia Belanda dan memandang rendah ribumi.
Dialog : Dan juga jangan lupa, kau hanya seorang Pribumi.
Penggambaran pikiran tokoh lain : Hanya matanya yang coklat kelereng itu juga yang suka melirik sedang bibirnya yang suka tercibir benar-benar menggelisahkan aku.
Robert Suurhof, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh antagonis, tidak diberi empati oleh pembaca. Ditafsirkan sebagai penentang tokoh utama dan menyebaban konflik.
Penggambaran fisik : Dia temanku di H.B.S., ia lebih tinggi daripadaku. Dalam tubuhnya mengalir darah Pribumi. Entah berapa tetes atau gumpal.
Dialog : “Kalau kau kalah, awas, untuk seumur hidup kau akan jadi tertawaanku. Ingat-ingat itu, Minke.”
Penggambaran pikiran tokoh lain : Aku tahu otak H.B.S. dalam kepala Robert Suurhof ini hanya pandai menghina, mengecilkan, melecehkan, dan menjahati orang. Dia anggap tahu kelemahanku: tak ada darah Eropa dalam tubuhku.
Magda Peters, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Seluruh kulitnya yang tidak tertutup kelihatan totol-totol coklat. matanya yang coklat bening selalu kelap-kelip.
Narasi : Guruku melarang kami mempercayai astrologi. Omong kosong, katanya.
Penggambaran pikiran tokoh lain : Ia mengesankan diri seakan seekor monyet putih betina yang bertampang kagetan. Tapi begitu mendengar pelajarannya yang pertama semua jadi terdiam. Perasaan hormat menggantikan.
Jean Marais (Syang Maré), tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Kakinya hilang satu akibat peperangan sewaktu masih jadi tentara.
Dialog : “Seniman besar, Minke, entah ia pelukis, entah apa, entah peimpin, entah panglima perang, adalah karena disarati dan dilandasi engalaman-pengalaman besar, intensif; perasaan, batin, atau badan. Tanpa pengalaman besar, kebesaran seseorang khayali semata.”
Penggambaran pikiran dan perasaan : Jean Marais, pelukis, perancang perabot rumah tangga, bangsa Prancis, sahabatku, tak berbahasa Belanda.


Herman Mellema, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian kecil cerita.
Penggambaran fisik : Alisnya tebal, tidak begitu putih, dan wajahnya beku seperti batu kapur. Rambutnya yang tak bersisir dan tipi situ menutup pelipis, kuping.
Penggambaran pikiran tokoh lain : Tuan telah tinggalkan pada Mevrouw Amelia Mellema-Hammers satu tuduhan telah berbuat serong. Aku, anaknya, ikut merasa terhina.
Darsam, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Darsam, yang belum pernah aku lihat itu muncul dalam benakku. Hanya kumis, tak lain dari kumis, sekepal dan clurit.
Narasi : Seorang pendekar Madura yang sangat patuh kepada majikannya. Tapi karena sifatnya yang selalu bertindak tanpa berpikir panjang, terkadang mengundang bahaya.
Dialog : “Darsam ini, Tuanmuda, hanya setia pada Nyai. Apa yang disayangi Nyai, disayangi Darsam. Apa yang diperintahkan, Darsam lakukan. tak peduli macam apa perintah itu.”
Penggambaran pikiran tokoh lain : Ternyata dia memang bisa dipercaya.
Dokter Martinet, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Penggambaran fisik : Ia berumur empatpuluhan, sopan, tenang dan ramah. Ia berpakaian serba putih kecuali topinya yang dari laken kelabu. matanya yang sebelah kanan menggunakan kaca monokel, yang terikat pada rantai mas pada lubang kancing abju sebelah atas.
Penggambaran pikiran tokoh lain : Bukan saja aku anggap dia sebagai seorang dokter yang trampil, seorang sarjana yang tinggi kemanusiaanya, juga seorang yang mampu memberi benih kekuatan baru.
Ibu Minke, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Narasi : Seorang ibu yang bijaksana dan sangat menyayangi anaknya.
Dialog : “Terserah padamu kalau memang kau suka dan dia suka. Kau sudah besar. Tentu kau berani memikul akibat dan tanggungjawabnya, tidak lari seperti kriminil.”
Penggambaran pikiran tokoh lain : Kau tak pernah menghukum aku, tak pernah mengadili putramu ini.
Ayah Minke, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian kecil cerita.
Narasi : Seorang ayah yang keras, pemarah, dan sangat menjunjung tinggi adat istiadat Jawa.
Dialog : “Dengar kau anak mursal! Kau sudah jadi linglung mengurusi nyai orang lain. Lupa pada orangtua, lupa pada kewajiban sebagai anak.
Tuan Asisten Residen B, tokoh tambahan, muncul beberapa kali dari sebagian cerita. Tokoh protagonis, sejalan dengan tokoh utama dan tidak menentang ataupun menyebabkan konflik.
Narasi : Seorang Belanda yang sangat menaruh perhatian kepada Pribumi.
Dialog : “Minke, kalau kau bersikap begitu terus, artinya mengambil sikap Eropa, tidak kebudak-budakan seperti orang Jawa seumumnya, mungkin kelak kau bisa jadi orang penting. Mestinya kau sebagai terpelajar, sudah tahu: bangsamu sudah begitu rendah dan hina. Orang Eropa tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Pribumi sendiri yang harus memulai sendiri.”

Alur dan Pengaluran
Alur cerita ini menggunakan alur keras, yaitu akhir cerita tidak dapat ditebak. Pada awal dan tengah cerita, mungkin pembaca akan berpikir cerita akan berakhir bahagia dengan pernikahan Minke dan Annelies, tetapi cerita ini diakhiri dengan perpisahan Annelies dan Minke. Annelies harus pergi ke negaranya, Belanda, sedangkan Minke tetap di Hindia sebagai seorang Pribumi.
Secara keseluruhan novel ini menggunakan alur maju, tetapi ditengah cerita terdapat kilas balik, yaitu :
Agar ceritaku ini agak urut, biar kuutarakan dulu yang terjadi atas diri Robert sepeninggalanku dari Wonokromo dibawa agen polisi klas satu itu ke B……………
Pengaluran yang digunakan di dalam novel Bumi Manusia ini adalah :
Teknik linier: Peristiwa berjalan secara runtun dari awal penceritaan perkenalan Minke dengan Annelies sampai kemudian mereka berdua berpisah.
Tenik ingatan: Minke menceritakan semua kejadian yang dialaminya, layaknya orang yang sedang menulis catatan harian.

Latar
a. Latar tempat
Orang menganggap rumahnya sebuah istana pribadi, sekali pun hanya dari kayu jati. Dari kejauhan sudah Nampak atap sirapnya dari kayu kelabu. Pintu dan jendela terbuka lebar. Berandanya tidak ada. Sebagai gantinya sebuah konsol cukup luas dan lebar melindungi anaktangga kayu yang lebar pula, lebih lebar daripada pintu depan.
b. Latar waktu
 Pagi itu sangat indah memang. Langit biru cerah tanpa awan.
c. Latar sosial
 Dan aku ragu. Haruskah aku ulurkan tangan seperti pada wanita Eropa, atau aku hadapi dia seperti wanita Pribumi- jadi aku harus tidak peduli?
 Dia hanya seorang nyai-nyai, tidak mengenal perkawinan syah, melahirkan anak-anak tidak syah, sejenis manusia dengan kadar kesusilaan rendah………..
 Kompeni Belanda tidak pernah mengistirahatkan senapan dan meriamnya, selama tiga ratus tahun di Hindia. Tiba-tiba ada seorang Eropa yang mengharapkan diri jadi perintis, pemuka, contoh bangsa. (Sebenarnya waktu iu ada beberapa di antara orang Belanda yang memperhatikan keadaan Pribumi)
 Max Tollenaar adalah nama-penaku. Judul asli telah diubah dan di dalamnya juga terdapat perbaikan redaksi, yang tidak semua aku setujui.

Gaya Bahasa
a. Diksi
Dalam novel ini, pemilihan kata atau diksi yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Jawa pada beberapa bagian dalam novel ini, misalnya : sinyo, ndoro, raden mas, kebo giro, mbedah praja mboyong putri, wisma, turangga, kukila, curiga, dan lainnya.
b. Citra Imaji
Pencitraan atau pengimajian yang terdapat di dalam novel ini antara lain :
 Citraan penglihatan : Di pojokan berdiri seperangkat mejamakan dengan enam kursi. Di dekatnya terdapat tangga naik ke loteng.
 Citraan penciuman : Bau susu sapi memenuhi ruangan.
 Citraan pendengaran : Terdengar suara sepatu berjalan menyeret pada lantai. Makin lama makin jelas. Makin dekat.
 Citraan taktil : Darahku naik ke kepala mendengar itu. bibirku menggeletar kering. Aku melangkah pelahan mendekatinya dan sudah siap hendak mencakar mukanya.
 Citraan perabaan : Tanganku diraih dan dipegangnya. Tangannya agak gemetar.
c. Majas
 Personifikasi : Ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya. Jaringan jalan keretaapi membelah-belah pulauku, Jawa. Pandang dua pemuda itu terasa menusuk punggungku.
Butir-butir air yang kelabu itu merajai segalana.
 Asindeton : Keretaapi – kereta tanpa kuda, tanpa sapi, tanpa kerbau,….
Pemandangan tambah lama tambah membosankan: tanah gersang, kadang kelabu, kadang kuning keputihan.
 Hiperbola : Kehebatannya menandingi kesaktian para satria dan dewa nenek moyangku dalam cerita wayang. Sekarang aku malu terpental-pental. Pikiranku mulai gila bergerayangan. Ia terus menggerutu seakan sedang jadi pengawal langit jangan sampai merobohi bumi.
 Sinekdoke : Jerman malah sudah membikin kereta digerakkan listrik.
 Metafora : Di kejauhan sana samar-samar nampak gunung-gemunung berdiri tenang dalam keangkuhan, seperti pertapa berbaring membatu.
 Simile : Matanya bak sepasang kejora bersinar di langit cerah.
 Alegori : Jantungku mendadak berdebaran ibarat laut diterjang angin barat.
 Simbolik : Dia telah menjadi hewan yang tak tahu lagi baik daripada buruk.
 Pleonasme : Ia berkaca dan melihat dirinya sendiri.
 Anti klimaks : Para lurah, wedana, mantri, polisi, menyerbu pendopo.
 Elipsis : Darsam! (maksudnya adalah memanggilnya untuk menghadap)
 Paradoks : Nampaknya guru-guruku, dengan adanya bendi mewah itu, lebih banyak memperlakukan aku sebagai orang tak dikenal dan sama derajat.

Gaya Penceritaan
Penceritaan dalam novel ini, pengarang sebagai pencerita intern. Pengarang hadir di dalam teks sebagai tokoh utama Minke, jadi menggunakan kata ‘Aku’. Pengarang menyebut tokoh-tokoh dengan kata ganti orang kedua, ketiga atau menyebut nama. Pengarang menggunakan sudut pandang took dan kata ganti orang pertama, mengisahkan apa yang terjadi dengan dirinya dan mengungkapkan perasaannya sendiri dengan kata-katanya sendiri.
Selain itu pengarang juga menggunakan sudut pandang ‘Aku’ pada tokoh lain tetapi hanya sebagai gambaran sekilas saja, misalnya :
Juga karenamengutamakan ururtan waktu aku susun bagian ini dari bahan yang kudapat dari pengadilan di kemudian hari. Sebagian terbesar didasarkan pada jawaban-jawaban Maiko melalui penterjemah tersumpah dan kutulis dengan kata-kataku sendiri.
“Aku datang dan berasal dari Nagoya, Jepang, ke Hongkong sebagai pelacur. Majikanku seorang Jepang, yang kemudian menjual diriku pada seorang majikan Tionghoa di Hongkong”…………………………

Amanat
Novel yang dilatarbelakangi pergerakan Indonesia di awal abad 20 ini, menceritakan pergerakan, perjuangan, dan semangat pemuda Indonesia di masa itu. Pengarang menyerukan agar pemuda-pemudi sekarang ini tetap mempunyai semangat itu meskipun sekarang sudah tidak ada penjajahan kolonial.
“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
- Pramoedya Ananta Toer -

Analisis Sosiologi Sastra
Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Wellek dan Warren (1993: 111) membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi yaitu:
a. Sosiologi pengarang: yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang.
b. Sosiologi karya sastra: yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra; yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya;
c. Sosiologi sastra: yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.



Berdasarkan penjelasan di atas, analisis sosiologi sastra novel Bumi Manusia adalah sebagai berikut :
Sosiologi Pengarang
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah peradaban yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru.
Penjara tak membuatnya berhenti untuk menulis, Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.
Tetralogi Buru ditulis Pram waktu masih mendekam di kamp kerjapaksa tanpa proses hukum pengadilan di Pulau Buru, sebelum ditulis roman ini oleh Penulis diceritaulangkan pada teman-temannya di Pulau Buru. Hal ini mengisyaratkan bahwa Penulisnya bukan hanya sekedar menulis dan membumbungkan imajinasi semata, tetapi dengan penguasaan pendalaman cerita yang dimaksud – dengan penulusuran dokumen pergerakan awal abad 20.
Pram memang tidak menceritakan sejarah sebagaimana terwarta secara objektif dan dingin yang selama ini diampuh oleh orang-orang berpendidikan. Pram juga berbeda dengan penceritaan kesilaman yang lazim sebagaimana tertulis dalam buku-buku pelajaran sekolah yang memberi jarak antara pembaca dan kurun sejarah yang diceritakan. Dengan gayanya sendiri, Pram coba mengajak, bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional awal abad 20. Karena itu gaya kepengarangan dan bahasa Pram yang khas, pembaca diseret untuk mengambil peran di antara tokoh-tokoh yang ditampilkannya.

Sosiologi Karya Sastra
Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Sosiologi Sastra
Hadirnya roman sejarah ini, bukan saja menjadi pengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini, karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dari sisinya yang berbeda.

1 komentar:

  1. ko mirip sm lapak sebelah ya?
    maaf, ga bermaksud menghakimi proses kreativitas ya

    BalasHapus