Senin, 29 Juni 2009

TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA

TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA

PADA ANAK BERUSIA DUA TAHUN

Oleh Yuniar Siti Wahyuni

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian bahasa kanak-kanak pada perkembangan pra-sekolah. Subjek penelitian adalah seorang anak berusia dua tahun yang berasal dari kabupaten Bandung. Data yang digunakan adalah data autentik dari hasil pengamatan bahasa pada anak tersebut. Penelitian yang akan dibahas adalah tahap perkembangan bahasa anak yang berupa tuturan dua kata yang bersifat telegrafis, yaitu hanya mengucapkan kata-kata yang mengandung arti yang paling penting.

PENDAHULUAN

Selama masa awal kanak-kanak, seorang anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama, belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi. Kedua, belajar berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Anak-anak yang tidak dapat mengemukakan keinginan dan kebutuhannya, atau yang tidak dapat berusaha agar dimengerti orang lain cenderung tidak berhasil memperoleh kemandirian yang diinginkan.

Pemerolehan bahasa tiap-tiap anak berbeda, tergantung kemampuan anak tersebut. Seorang anak tentu saja mempunyai tahapan-tahapan dalam memperoleh kemampuan bahasa tersebut.

Menurut Aitchison (1984), tahap kemampuan bahasa anak adalah sebagai berikut :

Tahap 1. Menangis

Menangis pada bayi mempunyai beberapa makna, seperti tangisan untuk minta minum, minta makan, tangisan karena kesakitan, dan sebagainya.

Tahap 2. Mendekur

Mendekur sebenarnya sulit dideskpripsikan, karena bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal, tapi hasil bunyi itu tidak sama dengan bunyi vokal yang dihasilkan orang dewasa. Tampaknya dengan mendengkur si bayi melatih peranti alat ucapnya.

Tahap 3. Meraban

Secara bertahap, bunyi konsonan akan muncul pada waktu anak itu mendekur dan ketika anak mendekati enam bulan, ia masuk pada tahap meraban. Secara impresif anak menghasilkan vokal dan konsonan secara serentak.

Tahap 4. Pola Intonasi

Pada usia delapan atau sembilan bulan, anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Hasil tuturan anak mirip dengan yang dikatakan oleh ibunya. Anak tampaknya mencoba menirukan percakapan dan hasilnya adalah tuturan yang kadang-kadang tidak dipahami oleh orangtuanya atau orang dewasa yang lain.

Tahap 5. Tuturan satu kata

Antara umur satu tahun dan delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Jumlah kata yang diperoleh bervariasi tergantung masing-masing anak.

Tahap 6. Tuturan dua kata

Pada tahap ini tuturan bersifat telegrafis, yaitu mengucapkan kata-kata yang mengandung arti paling penting.

Tahap 7. Infleksi kata

Secara gradual, kata-kata yang dianggap remeh atau tidak penting mulai digunakan. Infleksi kata juga mulai digunakan. Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi itu mulai merayap di antara kata benda dan kata kerja yang digunakan oleh anak.

Tahap 8. Bentuk tanya atau bentuk ingkar

Pada tahap ini anak sudah mulai memperoleh struktur kalimat yang lebih rumit.

Tahap 9. Konstruksi yang jarang dan kompleks

Pada usia lima tahun, anak secara mengesankan memperoleh bahasa. Kemampuan bahasa terus berlanjut meskipun agak lamban. Tata bahasa anak berusia lima tahun berbeda dengan tata bahasa orang dewasa. Tetapi lazimnya mereka tidak menyadari kekurangan mereka dalam hal itu.

Tahap 10. Tuturan yang matang

Perbedaan tuturan anak dengan tuturan orang dewasa secara pelan-pelan akan berkurang ketika usia anak itu semakin bertambah. Ketika usianya mencapai sebelas tahun, anak mampu menghasilkan kalimat perintah yang setara dengan kalimat perintah orang dewasa.

METODE PENELITIAN

Subjek Penelitian

Subjek kajian ini adalah seorang anak berusia dua tahun yang berasal dari kabupaten Bandung. Bahasa pertama yang diperoleh anak ini adalah bahasa Indonesia meskipun berasal dari daerah Sunda.

Pendekatan

Penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan, antara lain sebagai berikut.

1. Observasi

Peneliti melakukan pengamatan terhadap subjek penelitian. Penelitian dilakukan beberapa hari, yaitu saat subjek penelitian berbicara dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

2. Studi Pustaka

Untuk mendukung dan memudahkan penelitian, peneliti melakukan studi pustaka dari berbagai sumber pustaka.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada usia sekitar dua tahun, anak-anak mulai mengembangkan kata-kata tunggal menjadi ucapan dua kata, seperti “ingin susu” (seharusnya “aku ingin minum susu”). Ucapan ini merefleksikan suatu apresiasi pelaku, obyek, dan lokasi.

Pada awal tahap tuturan dua kata ini, tuturan anak cenderung bersifat telegrafis, yaitu hanya kata-kata penting saja yang disampaikan. Kata-kata yang fungsinya kecil dihilangkan.

Walaupun singkat, tuturan-tuturan ini mengungkapkan sebagian besar fungsi bahasa, seperti melokalisasi objek, dan menguraikan kejadian dan tindakan.

Beberapa tuturan dua kata ini dapat dilihat di tabel di bawah ini.

NO

FUNGSI TUTURAN

TUTURAN DUA KATA

1

Menyebutkan tempat dan nama

Mama Ati

Rumah Dede

2

Menyatakan keinginan

Makan kue

Minum susu

Dede pipis

Botol air

3

Menolak

Jangan buka

Bukan itu

4

Menggambarkan peristiwa, tindakan, atau situasi

Allah Akbar

Ibu pergi

Kakak tidur

Beli baso

5

Menunjukkan milik

Boneka Ani

Kamar Dede

6

Memberi sifat dan kualitas

Baju bagus

7

Bertanya

Ke mana?

Di mana?

Pada fungsi tuturan menyebutkan nama dan tempat, ada contoh dua kalimat yang diucapkan subjek penelitian, yaitu /mama ati/, dan /rumah dede/. Kata /mama ati/ adalah telegrafis dari kalimat “Mama saya bernama Ati”. Sedangkan pada kata /rumah dede/, maksud kata tersebut adalah “Ini adalah rumah milik Dede”.

Pada fungsi tuturan menyatakan keinginan, yaitu kata /makan kue/ yang berarti “aku ingin makan kue”, begitu juga pada kedua kata berikutnya /minum susu/yang berarti “aku ingin minum susu”, dan kata /dede pipis/ yang berarti “Dede ingin pipis”. Sedangkan pada kata /botol air/ yang dimaksud si subjek penelitian adalah dia ingin agar botol itu diisi oleh air.

Kata yang termasuk fungsi menolak adalah /jangan buka/ yan berarti “pintu itu jangan dibuka”,dan /bukan itu/ yang berarti baju yang dibawa ibunya bukan baju yang ingin dia pakai.

Pada fungsi tuturan menggambarkan peristiwa, kata /Allahu akbar/ diucapkan saat si subjek penelitian mendengar adzan yang berarti sudah saatnya melakukan shalat. Pada kata /ibu pergi/ berarti “Ibu sedang pergi”, /kakak tidur/ berarti “kakak sedang tidur”, dan kata /beli baso/ berarti “membeli baso”.

Fungsi tuturan menyatakan milik, kata /boneka ani/ berarti boneka milik Ani, kata /kamar dede/ berarti kamar milik dede.

Pada fungsi tuturan memberi sifat dan kualitas, kata /baju bagus/ berarti baju itu bagus, sedangkan pada fungsi tuturan bertanya, kata /ke mana/ dan /di mana/ bersifat menanyakan sesuatu pada lawan bicara.

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa kemampuan bahasa mengikuti tahapan-tahapan tertetu. Seseorang tidak secara langsung dapat berbicara.

REKOMENDASI

Usia sebelum lima tahun merupakan masa emas, di mana seorang anak sedang mengalami tahapan kemampuan berbahasa. Karena itu, ia memerlukan stimulasi agar ia dapat bekerja seperti yang seharusnya. Anak memerlukan lingkungan yang mendukung selama masa emas kemampuan berbahasa.

REFERENSI

Atkinson, Rita L., Atkinson, Richard C. & Hilgard, Ernest R. 1983. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.

Harras, Kholid A. & Andika Dutha Bachari. 2009. Dasar-Dasar Psikolinguistik. Bandung: UPI Press.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan “Suatu Pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan”. Jakarta : Erlangga.

Selasa, 28 April 2009

PERS DAN PERUBAHAN SOSIAL

Sebelum membahas pers dan perubahan sosial, kita perlu mengetahui pengertian pers itu sendiri. Apa bedanya jurnalistik dengan pers? Dalam pandangan orang awam, jurnalistik dan pers seolah memiliki pengertian yang sama. Sesungguhnya tidak, jurnalistik menunjuk pada proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Dengan demikian jurnalistik pers berarti proses kegiatan mencari, mengumpulkan, mengolah, memuat dan menyebarkan berita melalui media berkala pers yakni surat kabar, tabloid atau majalah kepada khalayak luas.

Perubahan sosial merupakan pergerakan dinamika masyarakat, yang disebabkan oleh kemajuan jaman yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan dan masuknya budaya asing ke dalam kehidupan masyarakat kita. Perubahan sosial ini ditandai dengan perubahan kultur atau nilai-nilai norma di masyarakat. Pada era globalisasi ini, banyak kebudayaan asing yang merasuk pada kehidupan kita. Sayangnya, masyarakat kita belum siap menerimanya dan tidak dapat memilah-milah kebudayaan luar yang sesuai dengan kebudayaan yang sudah ada. Banyak hal yang menyebabkan perubahan sosial yang cenderung bergerak ke arah yang negatif. Dalam hal ini, kita membutuhkan filterisasi.

Yang kita pertanyakan, apakah yang menjadi filter dalam perubahan sosial itu?

Sebagai media komunikasi pers memiliki beberapa fungsi, yang salah satunya adalah sebagai kontrol sosial atau stabilizer. Pers harus dapat membimbing khalayak luas dalam menentukan arah pergerakan dinamika masyarakat. Dalam tatanan sebuah negara pun, pers berfungsi sebagai pengawas jalannya roda pemerintahan.

Kebebasan pers yang muncul pada masa era reformasi ini ternyata membawa permasalahan baru. Peningkatan kuantitas penerbitan pers yang tajam, tidak disertai dengan peningkatan kualitas jurnalismenya. Sehingga banyak tudingan "miring" yang ditujukan pada pers nasional. Seperti kecurigaan pada praktik "jurnalisme preman, jurnalisme omongan", dan tudingan-tudingan negatif lainnya.

Ada juga media massa yang dituduh melakukan sensasionalisme bahasa melalui pembuatan judul yang bombastis, menampilkan vulgarisasi, dan erotisme informasi yang berbau seks. Tetapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa masih banyak media massa yang mencoba tampil dengan elegan dan beretika, daripada yang menyajikan informasi sampah dan berselera rendah.

Kemungkinan lain penyebab pers terus disorot, bahkan ada yang menyebut pers “kebablasan” adalah karena kurang profesionalisme dari jajaran wartawan, kekurangan yang paling utama adalah soal kemampuan memahami permasalahan yang akan diberitakan dan teknis keterampilan menulis. Untuk itu, wartawan di era yang sekarang ini perlu menguasai pengetahuan umum, memiliki kemampuan dan kepandaian menulis serta berapresiasi dalam kebebasan yang komperhensif dan partisipatif.

Masalah lain dalam perkembangan pers sekarang adalah adanya masyarakat yang jenuh media. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan suatu masyarakat mutakhir. Masyarakat mutakhir adalah masyarakat yang dilimpahi dengan informasi berupa gambar, teks, bunyi, dan pesan-pesan visual, masyarakat yang dibanjiri informasi dan pesan-pesan komersial. Seiring dengan meningkatnya aktivitas, masyarakat lebih memilih media televisi yang lebih simple dan cepat dalam penyampaian informasi dibandingkan media cetak.

Terlepas dari permasalahan yang dihadapi insan pers, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita sudah menjalankan pers sesuai peranannya?

Sudah saatnya lembaga pers terus menyempurnakan diri dalam menyampaikan informasi, dengan selalu melakukan penelitian ulang sebelum menyiarkannya, melakukan peliputan berimbang terutama untuk berita-berita konflik agar masyarakat memperoleh informasi lebih lengkap untuk turut menilai masalah yang sedang terjadi.

Penyempurnaan kualitas pers merupakan kerja keras yang dilakukan hari demi hari untuk kepentingan masyarakat.


Minggu, 26 April 2009

Melodi Rintik Hujan

“Kamu ini Tania dari Jurusan Bahasa Inggris kan?” tiba-tiba seorang wanita yang memakai baju berwarna merah datang menghampiriku.

“Ya,” jawabku singkat.

Plakk!!

“Rasakan itu, dasar kucing garong!!!” makinya.

Aku cuma bengong dan wanita itu pergi begitu saja.

***

“Hahahahahaha…sesekali aku pengen deh dikatai kucing garong tapi jangan sampai aku yang bilang begitu” Sofi tertawa terbahak-bahak saat mendengar ceritaku.

Seperti biasa, sehabis jam kuliah berakhir aku selalu diam di kantin kampus bersama kedua teman baikku, Sofi dan Radit.

“Hei, yang serius dong! Aku kan nggak tahu kalau aku diduakan! Di sini, akulah korbannya!”

“Makanya pilih-pilih dong, kalau cari pacar. Sebelum pacaran, lihat dulu orangnya!” saran Sofi sambil menahan tawa.

“Sudah kok.”

“Iya, tapi cuma tampangnya aja kan?”

“Ngg…” aku cuma terdiam saat mendengar ucapan sahabatku itu dan tak bisa melawannya. Mungkin karena semua yang dia ucapkan benar adanya. Aku suka perasaan berbunga-bunga saat sedang jatuh cinta. Seperti mencicipi makanan lezat sedikit demi sedikit. Karena itu aku ingin percintaan yang ringan-ringan saja. Jadi kalaupun putus nggak akan sakit hati. Setelah menangis semalaman, esoknya aku akan mencari cinta yang baru.

Radit terdiam dan terus memandangiku.

“Apa lihat-lihat?” bentakku.

“Ah, nggak.. aku takjub sama kamu Tan. Habis kamu ini ya, kalau nggak meencuri pacar orang, pacarmu yang dicuri orang. Begitu dan begitu terus.” jawabnya sambil tertawa.

“Itu kan bukan mauku!”

“Sudah ah, aku mau pergi dulu ya,” Radit beranjak dari kursinya.

“Kemana?”

“Kerja sambilan,” jawabnya sambil berlalu.

Setelah Radit hilang dari pandangan kami berdua, Sofi menyenggol lenganku dan berbisik padaku, “Si Radit itu, apa kamu mau sia-siakan dia?”

“Maksudnya?”

“Kulihat kalian lumayan cocok juga, kok.. Sekarang ini jarang ada orang seperti dia. Kamu juga sudah tahu dari dulu kan?” ujar Sofi sambil menatapku.

“Yang benar saja, mana mungkin aku pacaran dengan dia.”

“Hei, zaman sekarang teman bisa jadi pacar lho.”

Aku terdiam dan teringat kembali saat pertemuan pertamaku dengan Radit. Saat hujan deras itu, pertemuan kami benar-benar sangat menyebalkan. Saat itu aku baru saja diputuskan pacarku, karena itu aku menangis sejadi-jadinya. Saat berjalan aku tak sengaja menabraknya dan dia pun membentakku, padahal aku sedang menangis sedih. Setelah itu, aku bertemu kembali dengannya di tempat bimbingan belajar. Ketika aku melanjutkan kuliah di sini pun, ternyata kami sekelas. Aku merasa pertemuan kami adalah takdir.

Sebenarnya sejak awal aku memang tertarik pada Radit. Tapi sekarang ini kami nggak mungkin lebih dari teman Aku merasa nyaman dengan hubungan kami yang bukan hubungan percintaan. Mungkin karena saat pertemuan pertama kami, dia melihatku dalam keadaan yang sangat memalukan. Makanya aku jadi bisa bicara seenaknya padanya dan tanpa malu-malu lagi.

“Yuk ah, kita pergi,” Sofi menarik tanganku dan kami pergi meninggalkan kampus.

***

“Sedang apa kalian di sini?” Radit terlihat kaget saat aku dan Sofi mengunjungi restoran tempat dia bekerja.

“Hari ini adalah hari peringatan putus cintaku.Jadi, traktir aku ya,” kataku dengan cuek.

“Restoran ini bisa bangkrut kalau tiap kali putus, kamu minta ditraktir,” seloroh Radit sambil berlalu.

Aku dan Sofi memilih tempat duduk di sudut, karena di sana pemandangannya lebih indah. Kami pun memesan makanan dan kembali bercakap-cakap. Setelah selesai makan, Sofi melihat jam tangannya.

“Aku pulang duluan ya.. Ada janji sama Tedi nih,” ujarnya sambil beranjak dari kursi.

“Ya udah.. hati-hati di jalannya,” aku melambaikan tangan.

Aku kembali terdiam dan menikmati pemandangan dari jendela restoran. Rasanya enggan untuk pulang ke rumah. Sampai akhirnya Radit menghampiriku,”Kamu belum pulang?”

“Eh, iya,” aku merasa kaget saat melihatnya dihadapanku.

“Ya sudah, tunggu sebentar ya..Aku ganti baju dulu, nanti aku anterin kamu pulang,” kemudian Radit pergi ke ruang ganti.

***

Radit mengantarku sampai di depan rumahku. Setelah di depan rumah, aku pun turun dari motornya. “Makasih ya Dit…”

“Iya.. cepet masuk sana, malam ini langsung tidur ya dan jangan nangis gara-gara mantan kamu itu,” ucapnya sambil mengelus kepalaku.

“ya, enggak lah.. masa aku nangis gara-gara laki-laki seperti itu,” jawabku sambil tersenyum. Rasanya nyaman saat tangannya menyentuh rambutku.

Tiba-tiba telepon genggam Radit berbunyi. “Halo, iya, bentar lagi aku pulang ko. Besok aku ke rumah kamu deh say. Iya, met tidur ya..” kemudian dia mematikan teleponnya.

“Siapa?”

“Ah, itu, hmmmmm…” Radit terlihat ragu-ragu.

“Pacarku,” jawabnya.

Deg. Kenapa hatiku jadi terguncang begini?

“Oooh… Kok kamu nggak pernah cerita sih?” aku pura-pura tertawa menggodanya.

Kami pun terdiam dan merasa salah tingkah.

“Aku pulang ya..” Radit menyalakan motornya dan kemudian pergi.

Aku masih terdiam di tempat dan terus memandanginya yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi.

***

“Kuliah hari ini cukup sekian, jangan lupa besok kalian kumpulkan tugas hari ini di meja bapak ya,” Bapak Hidayat, dosen mata kuliah Conversation mengakhiri kuliahnya.

Teman-teman sekelas menjadi riuh dan satu persatu mulai meninggalkan kelas.

“Tan, sekarang kita ke kosannya Radit yuk,” Sofi menghampiriku.

“Eh, iya.. kemana dia? kok nggak masuk kuliah hari ini?” aku baru menyadari kalau hari ini aku belum melihat Radit.

“Ya elah.. baru nyadar? Jangan melamun aja non.. Hari ini Radit nggak masuk karena sakit, jadi sekarang kita menjenguk dia, Eh, tapi kamu pergi duluan aja ya, aku mau nungguin Tedi dulu.”

“Iya…”jawabku lesu.

Aku pun pergi ke kosan Radit, meski hujan turun dengan lebatnya. Sesampainya di sana, Radit membukakan pintu.

“Sendirian?” tanyanya.

“Enggak, nanti Sofi dan Tedi mau ke sini. Kamu sakit apa?” aku masuk dan menyimpan tas di atas kursi, kemudian duduk di atas tempat tidurnya.

“Cuma kecapean aja kok..”

“Makanya… banyak istirahat dong Dit..”

“Iya...” Radit terdiam di dekat jendela dan memandangi hujan di luar sana.

“Kalau melihat hujan, aku suka teringat saat kita pertama kali bertemu, “ ucapnya memecah kesunyian.

“Iya, tapi kamu jahat banget, Dit. Waktu itu aku kan lagi nangis tapi malah kamu bentak-bentak.” sungutku.

“Hahahahaha… waktu itu wajahmu menyedihkan sekali seperti kucing jalanan yang terlantar,” ejeknya.

“Radit!!! aku bangkit dari tempat tidur dan memukulnya. Tapi tangannya menahan tanganku. Sesaat kami pun terdiam, tangannya masih memegang tanganku. Kami saling menatap, cukup lama, dan wajah kami pun semakin mendekat. Kemudian bibirnya mencium bibirku.

Di saat yang bersamaan Sofi dan Tedi masuk ke kamar, secara spontan kami menjauh.

“Sedang apa kalian? Kok pada diam-diaman?” Sofi merasa curiga melihat gelagat kami berdua.

“Ah, enggak kok…” bantahku.

Kemudian kami berempat mengobrol dan tertawa bersama seperti biasanya. Tapi aku tidak berani menatap wajah Radit, dan dia pun tidak menatapku.

***

Setelah kejadian hari itu, Radit selalu menghindariku. Di dalam kelas pun kami hampir tidak berbicara satu sama lain. Lama kelamaan aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Sofi pun merasa aneh melihat tingkah laku kami berdua.

Karena itu, pada malam harinya, aku menunggu Radit di depan tempat kerjanya. Lama sekali aku menunngu, tapi akhirnya dia keluar dari restoran sambil menjinjing helm di tangan kirinya..

“Tania?!” Radit terlihat kaget saat melihatku.

Aku berjalan menghampirinya. Kami masih tidak saling menatap dan terdiam.

“Begini Dit, ada yang mau aku bicarakan. Aku…”

“Maaf…” tiba-tiba dia memotong ucapanku.

“Aku tahu, kamu merasa tidak nyaman setelah kejadian itu. Aku cuma bisa bilang maaf”. dia memalingkan wajahnya.

“Maaf?”

Tanpa terasa, satu persatu air mata menetes di pipiku.

“Cuma itu yang mau kamu bilang sama aku?” aku tidak bisa menahan emosiku.

“Bukan begitu Tania… aku….”

“Cukup!! Aku ngerti Kalau memang kamu lebih suka berpura-pura, nggak apa kok. Tapi aku tetap kesal.”

Hujan mulai turun tetapi kami tetap bergeming.

“Kalau kamu memang menyesal, anggap saja semuanya nggak pernah terjadi. Kalau kamu cuma main-main saja percuma aku bicara!”

Aku pergi meninggalkan Radit yang masih terdiam.

Hujan semakin deras dan membasahi tubuhku, tapi aku tidak peduli, Aku terus berlari sekencang-kencangnya. Hatiku terasa pedih, dadaku sakit sekali, aku nggak bisa bernafas. Padahal ini bukan pertama kalinya aku menangis. Ternyata mencintai seseorang bisa begitu menyakitkan. Aku tak sanggup menghentikan perasaanku ini. Baru kali ini, aku merasakan hal seperti ini. Apa yang kurasakan saat ini, pasti takkan terhapus untuk selamanya..

***

Aku terdiam di atas tempat tidurku, menutup kedua mataku, dan mencoba melupakan kejadian di malam itu. Tapi, tetap tak bisa.

Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi.

“Halo?”

“Tania!!!” ternyata Sofi yang meneleponku.

“Kamu kemana saja sih? Sudah seminggu nggak masuk kuliah. Sebenarnya kamu kenapa??”

“Aku nggak kenapa-kenapa kok.. cuma sedang tidak enak badan aja…”

“Jangan bohong… sebenarnya ada apa antara kamu dan Radit? Kalian bertengkar?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Huff.. Radit juga nggak mau bilang apa-apa..”

Aku memutuskan telepon. Maaf ya Sofi, saat ini aku tidak mau bicara dengan siapapun.

Setelah terdiam cukup lama, aku memutuskan untuk pergi keluar, ya sekedar menyegarkan suasana hatiku. Saat membuka pintu, aku kaget, Radit berdiri di hadapanku.

“Ada apa?” tanyaku ketus.

“Aku ke sini karena ada yang ingin kukatakan. Kamu pikir menghindar bisa menyelesaikan masalah?”

Aku terdiam dan tidak menatap wajahnya.

“Aku tahu kamu marah, tapi tolong dengarkan aku. Waktu itu, aku minta maaf karna aku sudah membuat suasana menjadi tidak karuan, tapi bukan berarti aku menyesal dengan apa yang sudah kulakukan.”

Aku terdiam dan menatap wajahnya.

“Aku merasa bersalah pada pacarku, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Kemarin aku sudah bicara padanya, kalau kami sudah tidak bisa bersama lagi.”

“Selama ini aku selalu merasa nyaman jika berada di sampingmu. Kalau kamu nggak ada, aku merasa ada yang kurang dan semua jadi membosankan. Mungkin karna sudah terbiasa berada di dekatmu aku jadi tidak menyadari perasaanku padamu. Tapi sekarang aku yakin, kalau aku sayang kamu Tania… Karena itu, tetaplah di sisiku,” Radit memegang kedua tanganku dan menatapku dengan lembut.

Aku tidak bisa menahan air mataku.

“Aku juga nggak bisa membohongi perasaanku lagi Dit, kalau selama ini, aku juga sayang sama kamu…”

Radit tersenyum dan menghapus air mataku dengan kedua tangannya. Kemudian dia memelukku. Pelukannya ini takkan pernah kulepaskan lagi, selamanya. Karena cintaku kali ini adalah cinta yang sangat berharga.